Lagu tarling

INDRAMAYU MEMANG KAYA AKAN SEGALA-GALANYA DARI MULAI MINYAK BUMI LAUT,HUTAN,BAHKAN SAWAH YANG MELIMPAH,BAHKAN INDRAMAYU JUGA TERKENAL DENGAN KOTA MANGGA ,KARENA BUAH MANGGANYA YANG SANGAT ENAK MAKA INDRA MAYU TERKENAL KEMANA- MANA ,SELAIN SUMBERDAYA ALAM INDRAMAYU JUGA TERKENAL DENGAN TEMABANG CIREBONAN,KHUSUSNYA DI WILAYAH HAURGEULIS BANYAK SEKALI MUSISI TERLAHIR DI SINI ,DAN MUNGKIN JUGA LAGU -LAGUNYA SEKARANG MENJADI LAGU FAVORIT ANDA...!

BERIKUT BEBERAPA KARYA 
Lagu Tarling
     
Kumis Ireng
Indri Caferasita [Cipt: Duraya Hidayat]

Wong ganteng kumise ireng
Murah senyum seneng dipandeng
Kang terus terang
Demen sampean sun ora tahan

Roko samsu bungkuse kuning
Kula gelem lamon dikawin
Kang aja melang kang aja bimbang
Demen sampean

Sumpah ning batin bli bakal kawin
Yen dudu sampean sing paling tampan

Kang kula melu aja ninggalaken
Wong mabok cinta kangen ningati

Duh kakang kumis ireng gawe mrangsang
Awan bengi kebayang-bayang

Roko samsu bungkuse kuning
Kula gelem lamon dikawin
Kang aja melang kang aja bimbang
Demen sampean

Download Lagu Kumis Ireng
Raja Duit
Friday, March 12, 2010 11:31 PM
Raja Duit
Ade Affa [Ciptaan : Usin Indra]


Aduh tobat isun bli kuat
Kegembang wong lanang garang
Jatibarang Jatisawit
Wong garang si raja duit

Wong manise kaya madu
Gawe ati sun kelayu
Woh manggis ireng kulite
Wong manis akeh duite

Pemuda bagus rupane
Sun pengen weruh arane


Karangkendal Kaliwungu
Ajak kenal mumpung ketemu
Gula jawa adon-adone
Mbuh menwa sun jodone

Sego tawas wedang jahe
Piring cilik wadah bolu
Wong ganteng sapa sing duwe
Yen balik kulane melu

Wong manise kaya madu
Gawe ati sun kelayu
Woh manggis ireng kulite
Wong manis akeh duite

Sepanggung Loroan
Aas Rolani [Cipt.Wari S/Rudi Sofyan]

Bli bisa ilangaken
Masih tetep bae kangen
Senajan kita wis pisahan
Ning batin kadang kelingan

Sok pengen ketemu maning
Guyonan kaya sing dingin
Sayang wong tua bli setuju
Kembang cinta akhire layu

Mengkenen temen nasib badan
Cinta putus ning dalan
Senajan mung seumur jagung
Tapi gawe keyungyun
Buktine masih kebayang
Bengen sepanggung loroan

Sok pengen ketemu maning
Guyonan kaya sing dingin
Sayang wong tua bli setuju
Kembang cinta akhire layu

Kang Ato
SIAPA menyangka lulusan STM Negeri Cirebon jurusan Mesin Umum memilih menjalani profesi sebagai seniman tarling. Ijazah STM yang didapat tahun 1965 itu hanya tergantung di dinding ruang tamu, diberi bingkai hingga berubah warna. Sunarto Martaatmadja kecil tergolong orang prihatin. Anak kepala SD di Desa Jemaras Kidul ini harus menempuh jarak puluhan kilometer bersepeda ke sekolahnya. Dengan sepeda tua milik bapaknya pula, ia sering membonceng Uci Sanusi guru tarlingnya, ke Palimanan, Arjawinangun, Celancang, Plumbon, Jamblang bahkan ke Kota Cirebon pada larut malam. Berbekal keinginan untuk memahami gitar dan suling serta beberapa tembang klasik Cerbonan, Narto kecil rela mengayuhkan kaki sambil membonceng gurunya ke dan dari berbagai tempat. Biasanya tempat yang dikunjungi adalah warung remang-remang (warem) sepanjang jalan.

Gurunya saat itu berstatus pimpinan grup “tarling” Melodi Kota Udang yang bernama Pria Lelana. Uci juga memimpin Orkes Keroncong sehingga lagu-lagu dalam tarling dinyanyikan sambil berdiri sebagai pengaruh keroncong. Demikian pula kreativitas Uci menyisipkan gamelan ke dalam tarling. Sementara Jayana saat itu hanya mengandalkan gitar dan suling, tetapi setelah bergabung dengan Uci, ia pun menggunakan tetabuhan gamelan dalam tarlingnya.

Sejak SD, Narto menjuarai beberapa lomba menyanyi. 1962 ia tergabung sebagai vokalis grup band STM sebagai penabuh tamtam atau kendang kecil. Kesibukan Kang Ato mengikuti kata hatinya untuk mengeluti tarling hingga ke seluk beluknya, ia sempat tidak lulus ujian STM. Akan tetapi ketika diulang setahun kemudian, ia lulus juga.
Akhir 1963, Kang Ato diajari sebuah lagu tarling (kiser) oleh Ismail alm, adik Uci. Saat itu ia sudah mencoba mencipta lagu klasik Cerbonan sendiri dengan cara membawa gitar sambil nonton wayang kulit dan menyesuaikan nada tatkala pesinden di panggung membawakan lagu klasik. Hasilnya, ia mengerti lagu-lagu Cerbon Pegot, Dermayonan dalam laras Pelog, seperti Kulu-kulu, Turun Tangis, dan sebagainya.

Setelah merasa cukup memiliki bekal keilmuan tarling, Kang Ato ingin punya gitar sendiri. Namun apa daya: uang tak punya. Maka ia bersama 30 kawannya mengumpulkan jerami (babad dami) paska panen padi dan dijual. Hasilnya dibelikan dua buah gitar akustik. Lengkaplah hasratnya memeluk gitar seharian.

Berbekal gitar itulah ia membentuk grup tarling yang bernama Karya Muda. Bersama kawannya dari Desa Jemaras (sekarang masuk wilayah Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon) ini dikenal sebagai tarling cilik. Setahun kemudian Karya Muda berubah jadi Seni Proletar. Istilah itu identik PKI dan biasa dipakai dalam rapat-rapat terbuka yang menggelorakan semisal rapat alegoris, dan kampanye politik, Kang Ato seorang kader PNI alias Soekarnois, mengubah nama grup tarlingnya menjadi Nada Jaya. Grup ini sudah mampu bersaing dengan grup tarling gurunya sendiri (Uci Sanusi) dan biasa manggung di berbagai tempat, mengundang kekaguman penonton.
Kang Ato bergabung dengan Barmawi, grup tarling Asmara Budaya. Penggabungan Nada Jaya dengan Asmara Budaya itulah yang memuculkan Nada Budaya. Beranggotakan 12 pemain, seorang vokalis (wirasuara) dan dua pesinden, berdiri 15 Agustus 1965. Sinden Nada Budaya saat itu: Kapsah dan Sampen. Lagu-lagu klasik amat dominan dalam pentas tarling, selain tarlingnya Uci yang menyisipkan fragmen Saedah Saeni karya guru Kang Ato, Mimi Carini.

Lagu Jonggrang Laut permintaan Kuwu Mursyid Desa Jamblang dalam hajatan di rumah kakak sepupu Kang Ato urung ditampilkan Uci, tetapi fragmen Saedah Saeni yang disuguhkan. Decak kagum penonton karena tarling dapat disisipi unsure cerita meski hanya sekitar 1 – 2 jam.

Hingga 1962 istilah tarling belum tersosialisasi. Irama Kota Udang merupakan julukan bagi kesenian yang mengandalkan gitar dan suling. Dalam acara Agustusan di reruntuhan Pabrik Gula Arjawinangun, Ketua Badan Pemerintah Harian (BPH) semacam DPRD memberi nama tarling bagi pentas kesenian yang menggunakan gitar dan suling. Tarling, bermakna yen sing melatar kudu eling (siapa pun yang berkelana/ menjalani kehidupan, harus sadar.

Tak dinyana. Uci dan Jayana dikesankan terlibat PKI 1965 pada kepengurusan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Meski keduanya bukan anggota PKI tapi karena ingin membalaskan sakit hartinya kepada Pak Kuwu yang memecat dari pekerjaannya sebagai Juru Tulis Desa Jemaras, Uci mendekati Bupati Cirebon, Harun. Uci Sanusi dan Jayana sebenarnya bergaris politik Partai Sosialis Indonesia (PSI) dibawah pimpinan Sutan Syahrir. “Keterlibatan” kedua dalam pergerakan itulah yang mencipta Nada Budaya tidak mempunyai saingan grup tarling yang kuat, kecuali Putra Sangkala yang dipimpin Abdul Adjib. Bahkan lagu Penganten Baru karya Askadi Sastrasuganda yang dilagukan Abdul Adjib konon dianggap lagu modern pertama di panggung tarling. Kang Ato kala ityu masih membawakan lagu-lagu klasik dalam tiap pertunjukannya. Ketika Kang Ato tidak pentas, Adjib sering mengajaknya manggung. Bujal, anggota Putra Sang Kala yang biasanya menjemput Kang Ato ke Jemaras, ikut juga Kapsah sebagai pesinden.

Nasib Kang Ato mujur. Tanggapan tarling tiap tahun selalu bertambah. Tahun 1966 Nada Budaya tampil 80 kali, naik 30 kali dari tahun sebelumnya. 1967, 125 kali dan pada saat itu Dadang Darniyah bergabung jadi sinden. 1968, 180 kali. 1969, 210 kali. 1970 sebanyak 215. 1971 sejumlah 230. 1972 manggung 243 kali. 1973 – 1976 rata-rata di atas 150-an. Sinden yang pernah bergabung di Nada Budaya adalah Asli, Asiati, Suteni, Serini, Sumiyati dan Desa Kalianyar. Jamisah dari Desa Bulak, dan Tumus dari Desa Kreo.

Lantaran provokasi, Dadang Darniyah keluar dari Nada Budaya. Posisinya digantikan Yayah Kamisiyah yang akhirnya disunting Kang Ato. Nada Budaya di tahun 1966 mulai memasukan unsur cerita di pentas tarlingnya dan unsur pelawak mantan pemain sandiwara rakyat (Masres). Mereka adalah Mang Towal, Si Kindung, Bendik dari Desa Bedulan, Rumi dari Indramayu mantan pemain Masres Tunggal Ika. Juga Gendut mantan pemain Masres Cendrawasih. Demikian pula Jebod dan Kampleng.

Adjib, Kang Ato, dan Uci bergabung membentuk Putra Nada Jaya tahun 1977. Setahun pentas mereka mencapai 90 kali. Grup ini bubar terjegal bagi hasil pentas. Tinggal Kang Ato dan Adjib yang bertahan, di sisi lain grup tarling Uci kian tenggelam.
Zaman terus berderak. Masa keemasan tarling tinggal cerita. Kini publik lebih senang meminta Kang Ato menampilkan organ tunggal ketimbang tarling. Pentas Nada Budaya pun tersisa 20 kali di tahun 2000.****
Oleh Dadang Kusnandar
*)Disalin dan ditulis ulang oleh penulis sendiri dari Pentas Musik Niat Ingsun (Embi C Noer) 14 – 15 Oktober 2000 di Gedung Kesenian Jakarta.


Bareng Bareng Janji
Aas Rolani

Durung percaya kula ning janjine
Sebab durung ana buktine

Kurang apa sih semene sayange
Pengen apa srok ngomongna bae

Dudu emas sing dipengeni
Dudu dunya sing dijaluki

Dadi apa nok sing disenengi
Mumpung lintang wulan sing nyakseni

Apa sampeyan bener tresna
Sun pasrah jiwa lan raga

Kakang bli bakal bohongan
Yen bohong kakang sumpae edan

Yuk bareng-bareng janji muga di sakseni
Ning gusti kang maha suci
Sapa sing sulaya awas kudu nerima
Ning cobaane kang kuasa

Durung percaya kula ning janjine
Sebab durung ana buktine
Kurang apa sih semene sayange
Pengen apa srok ngomongna bae
Sewulan Maning
Sunday, March 29, 2009 4:40 AM
Sewulan Maning
Aas Rolani

Tunggu kang sewulan maning
Yen sampeyan pengen kesanding
Aja watir sun ingkar janji
Yen wis jodo pasti bakal dadi siji

Rong tahun kita pisahan
Nahan rindu ninggal kenangan
Yen tanggung sewulan maning
Sabar kakang aja luruh ganti dingin

Cinta cerita impian kita
Kakang besok pasti kelaksana
Rindu Rintihan sing jero kalbu
Kakang sewulan maning ketemu

Mulane kang ayo dedonga
Muga ana restu sing kuasa

Rong tahun kita pisahan
Nahan rindu ninggal kenangan
Yen tanggung sewulan maning
Sabar kakang aja luruh ganti dingin
Mabok Bae
Sunday, March 29, 2009 4:27 AM
Mabok Bae
Aas Rolani

Aduh pusing kang
Duh aduh pusing
Pusing tujuh keliling
Rumah tangga langka senenge
Sampeyane mabok bae

Coba mikir kang dipikir dingin
Apa kakang bli isin
Wong mekaya langka luwihe
Saben dina mabok bae


Kudu inget ning masa depan
Aja nuruti nafsu setan
Minum-minuman Mabok-mabokan
Ngrusakne badan

Masih mending kang mabok dunya
Bisa nyukupi keluarga
Aja maboke mabok minuman
Bisa brantakan

Aduh pusing kang
Duh aduh pusing
Pusing tujuh keliling
Rumah tangga langka senenge
Sampeyane mabok bae


Selamat Tinggal
Rini A

Selamat tinggal Selamat berpisah
Sun arep mangkat adoh sing umah

Kekasih hati aja nangisi
Banyu mata sing dadi saksi

Bonggane wong tua sing gawe kawitan
Akhire anak sing dadi korban
Selamat Tinggal

Reff

Kasih...
Aja sedih ketuon
Kasih...
Najan durung kelakon
Gara-garane wong tua
Sing selalu memandang harta
Akhire anak sengsara
Rusak jiwa klawan raga

Bonggane wong tua sing gawe kawitan
Akhire anak sing dadi korban

Download Selamat Tinggal
Kurang Apa
Sunday, December 28, 2008 1:26 AM
Kurang Apa
Cucu Ayu Gumilang

Bli bisa dibayangaken
Masih ana sih demen
Pribe tanggung jawabe
Karo kewajibane

Setahun ning lawase
Katon pisan bedane
Kasih uga sayange
Bli kaya biasane

Yen mengkenen rasane
Ana paribasane
Air susu dibalas
Dengan air tuba

Reff.
Masih kurang apa
Kasih sayange kula
Tapi sampeyan tega
Gawe lara

Percuma karo janji
Yen akhire ngingkari
Percuma karo sumpah
Yen bli nyata

Apa wis bli kelingan
Ning ucapan sampeyan
Jare arep setia
Gawe lelara

Omong semanis madu
Janji selangit biru
Tapi sekabeh iku
Dicukur rata

Bli bisa dibayangaken
Masih ana sih demen
Pribe tanggung jawabe
Karo kewajibane

Download Kurang Apa


Rumasa
Wadi Oon

Dudu salahe sira
Dudu salah wong tua
Kita dewek rumasa
Durung gawe bahagia

Impiane suwarga tapi bukti neraka
Sinar apada ilang
Pepeteng kang den sawang
Kita wis duwe letih

Reff
Sumpah sungguh mati
Pengen nyenengaken rabi
Tapi ora bisa
Mung bareng sengsara

Aja gawe ketuon
Ngerti prasaan wong wadon
Pengen seneng pengen mewah
Mung sing dinggo langka

Nyen sira ora terima
Kita bli arep maksa
Ati rela berpisah
Asal sira bahagia
Kita wis duwe letih

Download Rumasa

Sejarah Tarling, Melodi Sarat Pesan Moral
sumber : www.republika.com

Bagi masyarakat yang tinggal di pesisir pantai utara (pantura), terutama Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon, kesenian tarling telah begitu akrab. Alunan bunyi yang dihasilkan dari alat musik gitar dan suling, seolah mampu menghilangkan beratnya beban hidup yang menghimpit. Lirik lagu maupun kisah yang diceritakan di dalamnya, juga mampu memberikan pesan moral yang mencerahkan dan menghibur.

Meski telah begitu mengakar dalam kehidupan masyarakat, tak banyak yang mengetahui bagaimana asal-usul terciptanya tarling. Selain itu, tak juga diketahui dari mana sebenarnya kesenian tarling itu terlahir.

Namun yang pasti, tarling merupakan kesenian yang lahir di tengah rakyat pantura, dan bukan kesenian yang 'istana sentris'. Karenanya, tarling terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, dan tidak terikat ritme serta tatanan tertentu sebagaimana seni yang lahir di tengah 'istana'.
 

 
Sebelum 'resmi' bernama tarling, kesenian ini dikenal dengan sebutan 'melodi kota ayu' di Kabupaten Indramayu, dan 'melodi kota udang' di Cirebon. Pada 17 Agustus 1962, ketua Badan Pemerintah Harian (BPH, sekarang DPRD) Kabupaten Cirebon, menyebut kesenian itu dengan sebutan tarling.

Nama tarling itu diidentikkan dengan asal kata 'itar' (gitar dalam bahasa Indonesia) dan suling (seruling). Versi lain pun mengatakan bahwa tarling mengandung filosofi 'yen wis mlatar kudu eling'' (jika sudah berbuat negatif, maka harus bertaubat).
Baca lebih lanjut...
Salah seorang tokoh seni asal Kabupaten Indramayu, Supali Kasim, membuat catatan tersendiri soal tarling dalam bukunya yang berjudul Tarling, Migrasi Bunyi dari Gamelan ke Gitar-Suling. Dalam buku itu dia menuturkan, asal tarling mulai muncul sekitar tahun 1931 di Desa Kepandean, Kecamatan/Kabupaten Indramayu. Saat itu, ada seorang komisaris Belanda yang meminta tolong kepada warga setempat yang bernama Mang Sakim, untuk memperbaiki gitar miliknya. Mang Sakim waktu itu dikenal sebagai ahli gamelan.

Usai diperbaiki, sang komisaris Belanda itu ternyata tak jua mengambil kembali gitarnya. Kesempatan itu akhirnya dipergunakan Mang Sakim untuk mempelajari nada-nada gitar, dan membandingkannya dengan nada-nada pentatonis gamelan.

Hal itupun dilakukan oleh anak Mang Sakim yang bernama Sugra. Bahkan, Sugra kemudian membuat eksperimen dengan memindahkan nada-nada pentatonis gamelan ke dawai-dawai gitar yang bernada diatonis.

Karenanya, tembang-tembang (kiser) Dermayonan dan Cerbonan yang biasanya diiringi gamelan, bisa menjadi indah dengan iringan petikan gitar. ''Keindahan itupun semakin lengkap setelah petikan dawai gitar diiringi dengan suling bambu yang mendayu-dayu,'' ujar Supali.

Alunan gitar dan suling bambu yang menyajikan kiser Dermayonan dan Cerbonan itu pun mulai mewabah sekitar dekade 1930-an. Kala itu, anak-anak muda di berbagai pelosok desa di Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon, menerimanya sebagai suatu gaya hidup.

Bahkan pada 1935, alunan musik tarling juga dilengkapi dengan kotak sabun yang berfungsi sebagai kendang, dan kendi sebagai gong. Kemudian pada 1936, alunan tarling dilengkapi dengan alat musik lain berupa baskom dan ketipung kecil yang berfungsi sebagai perkusi.

Sugra dan teman-temannya pun sering diundang untuk manggung di pesta-pesta hajatan, meski tanpa honor. Biasanya, panggung itu pun hanya berupa tikar yang diterangi lampu patromak (saat malam hari).

Tak berhenti sampai di situ, Sugra pun melengkapi pertunjukkan tarlingnya dengan pergelaran drama. Adapun drama yang disampaikannya itu berkisah tentang kehidupan sehari-hari yang terjadi di tengah masyarakat. Akhirnya, lahirlah lakon-lakon seperti Saida-Saeni, Pegat Balen, maupun Lair Batin yang begitu melegenda hingga kini. Bahkan, lakon Saida-Saeni yang berakhir tragis, selalu menguras air mata para penontonnya.

Tak hanya Sugra, di Kabupaten Indramayu pun muncul sederet nama yang melambungkan tarling hingga ke berbagai pelosok daerah. Di antara nama itu adalah Jayana, Raden Sulam, Carinih, Yayah Kamsiyah, Hj Dariah, dan Dadang Darniyah. Pada dekade 1950-an, di Kabupaten Cirebon muncul tokoh tarlig bernama Uci Sanusi.

Kemudian pada dekade 1960-an, muncul tokoh lain dalam blantika kesenian tarling, yakni Abdul Ajib yang berasal dari Desa Buyut, Kecamatan Cirebon Utara, Kabupaten Cirebon, dan Sunarto Marta Atmaja, asal Desa Jemaras, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon.

Seni tarling saat ini memang telah hampir punah. ''Namun, tarling selamanya tidak akan bisa dipisahkan dari sejarah masyarakat pesisir pantura Dermayon dan Cerbon,'' tandas Supali.


Nang Apa - Yeti Eryati

Nang apa, duh sekian nang apa
Lawas bli teka-teka, kebayang ning mata

Ning endi, duh sekien ning endi
Apa bli inget janji, sumpah bareng mati

Pegel ngarep-ngarepe, pegel ngentenanane
Lawas ninggale sampe seprene
Laka kabare
Lawas ninggale sampe seprene
Laka kabare

Nang apa, duh sekian nang apa
Lawas bli teka-teka, kebayang ning mata

Ora disangka-sangka lan ora dinyana
Nang apa sampeyan tega ninggal kula

Ora disangka-sangka lan ora dinyana
Nang apa sampeyan tega ninggal kula

Apa salahe, apa dosae
Apa salahe, tega ninggali

Nang apa, duh sekian nang apa
Lawas bli teka-teka, kebayang ning mata

Pegel ngarep-ngarepe,pegel ngentenanane
Lawas ninggale sampe seprene
Laka kabare
Lawas ninggale sampe seprene
Laka kabare

Nang apa, duh sekian nang apa
Lawas bli teka-teka, kebayang ning mata
.
Download Nang Apa
Download MP3 Tarling

MP3 Tarling Cirebonan dan Dermayon lainnya dapat di download disini.
Untuk liriknya akan di upload selanjutnya.
* Klik untuk download mp3
1. Adus Banyu Kembang - Sri Kartika Dedi
2. Aja Suwe Suwe
3. Cinta Lokasi - Een C
4. Coker - Reza Zaluh
5. Ditinggal Kawin
6. Goyang Bareng
7. Jembatan Layang - Rina A
8. Korban Rayuan
9. Lemes
10. Mangan Turu - Yuli Arane
11. Manuk Dedali - Tety S
12. Manuk Jatayu - Yuli Arane
13. Nyeleweng - Rendy R
14. Pucuke Cemara - Rena Revalia
15. Rangda Sabrang Wetan - Udi Blekecuis
16. Rumasa - Wadi Oon
17. Selamat Tinggal - Tatang Udiyanti
18. Selamat Tinggal - Rini A
19. Ula Welang - Nengsih

* Klik untuk download mp3
Lirik Lagu Tarling
Lagu Tarling

Tarling merupakan kesenian khas dari wilayah pesisir timur laut Jawa Barat (Indramayu-Cirebon dan sekitarnya). Bentuk kesenian ini pada dasarnya adalah pertunjukan musik, namun disertai dengan drama pendek. Nama "tarling" diambil dari singkatan dua alat musik dominan: gitar listrik dan suling. Selain kedua instrumen ini, terdapat pula sejumlah perkusi, saron, kempul, dan gong.

Awal perkembangan tarling tidak jelas. Namun demikian, pada tahun 1950-an musik serupa tarling telah disiarkan oleh RRI Cirebon, dan menjadikannya populer. Pada tahun 1960-an pertunjukan ini sudah dinamakan "tarling" dan mulai masuk unsur-unsur drama.

Semenjak meluasnya popularitas dangdut pada tahun 1980-an, kesenian tarling terdesak. Ini memaksa para seniman tarling memasukkan unsur-unsur dangdut dalam pertunjukan mereka, dan hasil percampuran ini dijuluki tarling-dangdut. Selanjutnya, akibat tuntutan konsumennya sendiri, lagu-lagu tarling dicampur dengan perangkat musik elektronik sehingga terbentuk grup-grup organ tunggal tarling organ. Pada saat ini, tarling klasik sudah sangat jarang dipertunjukkan dan tidak lagi populer.


Nambang Dawa
Ini Damini

Lara ning ati
Ditinggal laki
Rasane sedih
Tanpa permisi

Diputus beli Dipegat beli
Batin kesiksa Digawe lara
Alias nambang dawa

Apa sih wis bosen
Apa wis bli demen
Apa wis bli suka
Apa wis bli tresna

Apa sih wis bosen
Apa wis bli demen
Apa wis bli suka
Apa wis bli tresna

Yen wis ora suka
Aja dilelara
Priwen sih karepe
priwen tanggung jawabe

Apa artine wong rumah tangga
Dipegat ora ketunggon ora
Alia nambang dawa
.
Download Nambang Dawa

Isep Isep Tebu
Ella Nurhayati

Ning sor wiwitan tembara
Kita wong loro memadu cinta
Saling janji setia
Kisah cinta seia sekata

Janjine tanggal telu
Arepan ngadep ning penghulu
Sampe wis keliwat tanggale
Tapi durung ana lamarane

Reff.
Janji janji tinggal janji
Ora pernah ditepati
Dasar wong lanang tukmis
Rayuan manis serba romantis

Rasa-rasa isin ning batur
Ning wong tua lan sedulur
Uwis lawas demenan
Durung bae kawinan

Isep-isep tebu kakang ning pinggir kali
Sekien wis layu kulane ditinggal kari

Janjine tanggal telu
Arepan ngadep ning penghulu
Sampe wis keliwat tanggale
Tapi durung ana lamarane
.
Download Isep Isep Tebu

Pasar Patrol
Yuli Arane

Pasar Patrol emang strategis
Pangkalane angkot meng Haurgeulis
Jalan raya mobil elf karo ebis
Pantes bae pasare kuh paling laris

Paling enak pedagang sayuran
Modal lapak ngenteni kiriman
Soal harga mung sing kanggo patokan
Larang murah pasti oleh keuntungan

Reff.
Pasar patrol pancen terpelihara
Bersih rapih wis budaya kita
Pedagange para wong terhormat
Lokasie Indramayu Barat

Paling enak pedagang sayuran
Modal lapak ngenteni kiriman
Soal harga mung sing kanggo patokan
Larang murah pasti oleh keuntungan
.
Download Pasar Patrol
Download Pasar Patrol - Yuli Arane.mp3 from Uploading.com

Dedali Putih

Tek adang-adang sing bengen
Ngawine  wong wadon sejen
Apa sampeyan wis lali
Waktu janji

Piring abang sing Panjunan
Sulaya karo sumpae
Ngomong cinta ngomong sayang
Mung ning lambe

Reff.
Dedali putih
Tulungana badan iki
Sing lagi lara lara lara
Lara ati...

Dedali putih
Sampeyaken ning kekasih
Kula masih demen demen demen
Setengah mati

Piring abang sing Panjunan
Sulaya karo sumpae
Ngomong cinta ngomong sayang
Mung ning lambe
.
Download Dedali Putih

Kucing Garong

Kelakuan si kucing garong
Ora kena ndeleng sing mlesnong
Main sikat main embat
Apa sing lewat

Kelakuan si kucing garong
Selalu nggulati sasaran
Asal ndeleng pepesan
Wajah bringasan

Reff.
Iku contoe wong lanang
Sing sifate kaya kucing garong
Awas kudu ngati-ati
Yen kucing garong lagi beraksi

Sing dadi modal andalan
Kucing ngedengi duit atusan
Yen bli kuat nahan iman
Bisa-bisa dadi berantakan

Kelakuan si kucing garong
Selalu nggulati sasaran
Asal ndeleng pepesan
Wajah bringasan

.
Download Kucing Garong

Lanange Jagat

Kaya-kayane langka
Wong sejagat buana
Bagus rupa ayu kaya satria Arjuna
Oooh... cuma pacare kula

Awan bengi kelingan
Sampe klalen ning mangan
Penasaran sun narima subadan lamunan
Ooh.. cinta bli kelaksana

Reff.
Oooh.. Junjunan, sing dadi idaman
Saksi lintang lan wulan kula sayang sampeyan
Oooh.. Junjunan, sing dadi idaman
Sumpah pitung turunan kula emong pisahan

Sejuta hasrat kula wis kaya sekarat
Batin kula ngucap sampeyan lanange jagat
.
Download Lanange Jagat

Edan Anyaran - Dede Yohana

Mengkenen rasane
Wong demen ora kelakon
Ndeleng ayam kaya sira
Ndeleng bebek kaya sira
Persis wong sing kesurupan
Kaya wong edan anyaran

Batin sun kesiksa
Demen di tinggal lunga
Tiwas sawah sun dilelang
Duit segudang melayang
Tapi angger ora demen
Tapi angger bae ora sayang

#Nok.. kawinan yu...
Kakang demen nok...
Cinta nok....

Reff.
Kebayang, kebayang bae pujaan
Cengar cengir sun dewekan
Kaya wong edan anyaran

Kedanan, rasane kakang kedanan
Awan lan bengi kedanan
Kaya wong edan anyaran
.
Download Edan Anyaran

Segara Adoh Pinggire

Janji sehidup semati
Ora bakal disakiti
Sumpah seia sekata
Ora bakal dilelara

Buktine kien priwen
Wis tega ninggal kula
Ganti demenan bengen
Hati rasa kecewa

Sedina yen bli ketemu
Ngomonge rasa seminggu
Nyen bengi turu bli lali
Ngomonge selalu mikiri

Buktine kien priwen
Wis tega ninggal kula
Kawin karo wong sejen
Batin kula kesiksa

Reff.
Percuma...
Sampeyan ngomong cinta
Janjine kien sulaya
Nyiksa ning jiwa lan raga

Sun rela...
Urip digawe lara
Moga sampeyan bahagia
Wong loro saling setia

Segara adoh pinggire
Sun rasa wong ora duwe
Segara adoh pinggire
Sun rasa wong ora duwe
.
Download Segara Adoh Pinggire

Surat Biru - Dadang Anesa

Intro
Oooh nangapa sampeyan tega
Mutusaken cinta isun tanpa dosa

Sun nerima surat biru
Tulisane sampeyan
Hati sun rasane kaku
Batin kula tetangisan

Kula kudu nerima
Najan karo kepaksa
Ning bathin emong pisah
Nanging ora kuasa

Sun nerima surat biru
Tulisane sampeyan
Hati sun rasane kaku
Batin kula tetangisan

Reff
Putus cinta lewat surat
Nahan sakit ora kuat
Dunia rasane peteng
Mung sampeyan
Sing kedeleng

Awan bengi beli bisa turu
Awit nerima surat biru
Pikiran rasa keganggu
Ning sampeyan sun kelayu
.
Download Surat Biru

Tarling

Tarling merupakan kesenian khas dari wilayah pesisir timur laut Jawa Barat (Indramayu-Cirebon dan sekitarnya). Bentuk kesenian ini pada dasarnya adalah pertunjukan musik, namun disertai dengan drama pendek. Nama "tarling" diambil dari singkatan dua alat musik dominan: gitar listrik dan suling. Selain kedua instrumen ini, terdapat pula sejumlah perkusi, saron, kempul, dan gong.

Awal perkembangan tarling tidak jelas. Namun demikian, pada tahun 1950-an musik serupa tarling telah disiarkan oleh RRI Cirebon, dan menjadikannya populer. Pada tahun 1960-an pertunjukan ini sudah dinamakan "tarling" dan mulai masuk unsur-unsur drama.

Semenjak meluasnya popularitas dangdut pada tahun 1980-an, kesenian tarling terdesak. Ini memaksa para seniman tarling memasukkan unsur-unsur dangdut dalam pertunjukan mereka, dan hasil percampuran ini dijuluki tarling-dangdut. Selanjutnya, akibat tuntutan konsumennya sendiri, lagu-lagu tarling dicampur dengan perangkat musik elektronik sehingga terbentuk grup-grup organ tunggal tarling organ. Pada saat ini, tarling klasik sudah sangat jarang dipertunjukkan dan tidak lagi populer.

Music

Music is an art form in which the medium is sound organized in time. Common elements of music are pitch (which governs melody and harmony), rhythm (and its associated concepts tempo, meter, and articulation), dynamics, and the sonic qualities of timbre and texture. The word derives from Greek μουσική (mousike), "(art) of the Muses".

The creation, performance, significance, and even the definition of music vary according to culture and social context. Music ranges from strictly organized compositions (and their recreation in performance), through improvisational music to aleatoric forms. Music can be divided into genres and subgenres, although the dividing lines and relationships between music genres are often subtle, sometimes open to individual interpretation, and occasionally controversial. Within "the arts", music may be classified as a performing art, a fine art, and auditory art.

To people in many cultures, music is inextricably intertwined into their way of life. Greek philosophers and ancient Indians defined music as tones ordered horizontally as melodies and vertically as harmonies. Common sayings such as "the harmony of the spheres" and "it is music to my ears" point to the notion that music is often ordered and pleasant to listen to. However, 20th-century composer John Cage thought that any sound can be music, saying, for example, "There is no noise, only sound." According to musicologist Jean-Jacques Nattiez, "the border between music and noise is always culturally defined—which implies that, even within a single society, this border does not always pass through the same place; in short, there is rarely a consensus.… By all accounts there is no single and intercultural universal concept defining what music might be, except that it is 'sound through time'."